Inspirasi Datang dari Atap Dapur
Sejak Februari 2008 lalu, kami sekeluarga menempati rumah baru di kawasan Ujungberung, Bandung. Tak terasa, kiniĀ hampir 1,5 tahun kami telah menempati rumah itu. Rumah kecil yang menjadi tempat berteduh Elika sejak lahir, dan juga kami kedua orangtuanya.
Kini, beberapa bagian rumah telah menunjukkan tanda-tanda harus diperbaiki, terutama di bagian belakang yang menjadi ruang dapur. Langit-langit ruang belakang tampak keropos dimakan rembesan air hujan. Keropos itu terjadi baik di sisi kiri maupun kanan ruangan.

Atap dapur yang mulai minta diperbaiki
Bila atap itu dicor dengan semen, mungkin keropos itu tidak akan terjadi. Hmm… baiklah, mengecor atap di ruang belakang harus menjadi prioritas bagi pengeluaran kami selanjutnya. Biayanya pasti lumayan, dan mungkin perlu waktu pembangunan yang cukup lama.
Saya pun mulai berhitung. Ruang dapur itu memiliki panjang 6 meter, dengan lebar 1,5 meter. Berapa zak semen dan berapa colt pasir yang diperlukan, berapa tenaga tukang untuk membangunnya, berapa lama membangunnya. Huh, kok kepala sudah pusing duluan ya? Belum lagi membayangkan proses pembangunan yang pasti menebarkan kebul debu, dan mungkin saja berlangsung selama lebih dari seminggu. Kasihan bayi kami nanti.
Saya juga mulai mencari tahu harga bahan bangunan. Saat mencari-cari harga tersebut, saya menemukan produk Hebel dan Primemortar. Tertarik dengan keunggulan yang dipromosikan kedua produk itu, saya mulai berhitung ulang.
Dalam pandangan saya yang awam, Hebel adalah blok semen yang siap digunakan secara instan. Ruang dapur rumah kami bisa tertutup oleh blok-blok semen itu untuk kemudian direkatkan oleh Primemortar. Sepertinya, proses pembangunannya bisa jauh lebih singkat danĀ polusi debu pun bisa jauh lebih sedikit dibandingkan dengan pembangunan secara proses konvensional.
Biaya yang harus dikeluarkan juga bisa lebih efisien. Melihat tersedianya produk blok semen untuk tangga, pikiran saya jadi berkembang. Bagian atas ruang belakang itu bisa jadi tempat menjemur pakaian.
Efisiensi biaya itu memungkinkan kami untuk membangun kamar kecil di lantai atas itu. Nantinya, kamar kecil itu akan ditempati pembantu kami. Jadi, kamar di bawah yang selama ini ditempati pembantu kami, bisa jadi kamar tamu. Atau, bisa jadi ruang bermain bagi bayi kami, Elika, atau bisa juga jadi ruang kerja saya dan istri.
Mengkhayal sudah, sekarang waktunya menabung! *
Tidak ada Komentar
This website uses IntenseDebate comments, but they are not currently loaded because either your browser doesn't support JavaScript, or they didn't load fast enough.